Ancaman Boikot Piala Dunia 2018 Dari Pemerintah Inggris

Presiden Vladimir Putin Saat Memantau Kesiapan Otkrytie Arena Moskow Sebagai Salah Satu Tempat Digelarnya Laga Piala Dunia 2018
Presiden Vladimir Putin Saat Memantau Kesiapan Otkrytie Arena Moskow Sebagai Salah Satu Tempat Digelarnya Laga Piala Dunia 2018

Sudah terdengar sebelumnya, kalau Sergei Skripal, seorang agen spionase ganda berusia 66 tahun mengalami kecelakaan di Salisbury Inggris. Ternyata insiden ini berbuntut panjang, seiring dengan keluarnya ancaman boikot Piala Dunia 2018 Rusia dari pemerintah Inggris.

Sejatinya, nuansa berbau politik semacam ini di ajang Piala Dunia bukanlah yang kali pertama. Pada tahun 1978, saat event akbar sepakbola dunia tersebut berlangsung di Argentina, hal yang sama pun juga terjadi.

Rusia sendiri mengatakan, kalau pemboikotan tersebut dikeluarkan Inggris terkait kemenangannya mendapat hak sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018 yang bakal digelar pada bulan Juni mendatang.

“Dari analisa kami, pemerintah Inggris jadi rewel gara-gara kami memenangkan seleksi hak tuan rumah Piala Dunia 2018. Padahal, seleksi yang dilakukan pada tahun 2010 tersebut sudah berjalan adil dan berujung pada kata sepakat”, jelas juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia saat ditemui pers.

Agen Skripal disisi lain merupakan agen spionase Rusia yang dianggap berkhianat dengan juga menjual informasi rahasia kepada Inggris. Kecelakaan terhadap dirinya terjadi, kala Agen Skripal sedang berjalan-jalan bersama putrinya di seputar bilangan Salisbury. Sampai detik ini, kronologis insiden tersebut masih diselimuti misteri. Walaupun pihak kepolisian Inggris sudah mendapati, kalau dalam tubuh Skripal dan putrinya terkontaminasi dengan zat gas beracun. Kendati, pemerintah Inggris menduga kuat kalau ini merupakan kegiatan yang didalangi oleh Vladimir Putin, Presiden Rusia.

Mendengar berita tersebut, sontak negara-negara Eropa pun turut hangat membicarakan hal ini. Terutama negara-negara yang berseberangan dengan alur pemerintahan Rusia. Putin dianggap segelintir negara memang menjadikan Piala Dunia 2018 ini sebagai propaganda politiknya. Dugaan itu sendiri mencuat, lantaran pada tahun 1978 pun Argentina melakukan hal serupa kepada pemerintah Amerika Serikat (AS) yang dianggapnya tengah melakukan konspirasi.

Pada saat itu, FIFA melangsungkan seleksi hak tuan rumah Piala Dunia 1978 pada tahun 1966. Disisi lain, saat itu juga tengah terjadi pergantian tahta pemerintahan Argentina sebelumya yang dipimpin oleh Isabel Martinez de Peron ke pemerintahan baru yang bersifat ditaktor. Untungnya kemenangan Argentina pada Piala Dunia 1978 berhasil melunturkan situasi politik panas yang terjadi. Mario Kempes sukses meratakan Belanda yang tampil tanpa Johan Cruyff pada putaran final.

“Lucu juga ya, situasi politik sepanas apapun langsung luluh dengan kemenangan di sepakbola”, guyon Cesar Luis Menotti, pelatih timnas Argentina pada saat itu.

“Padahal, hal yang terjadi sebelumnya bisa dibilang parah. Sejumlah nama pemain sepakbola sampai tidak diketahui di beberapa negara, karena negara-negara tersebut tengah bersinggungan dengan negara asal pemain tersebut”, imbuh Menotti lagi.

Mantan Presiden FIFA periode 1998 – 2015, Sepp Blatter juga ikut angkat bicara terkait pemboikotan Piala Dunia 2018 yang dicanangkan oleh pemerintah Inggris. Pernyataan kontroversial tersebut dikeluarkannya saat disambangi Marca 3 hari yang lalu (16 / 3 / 2018).

“Buat apa sih capek-capek bikin manuver politik segala. Ya, tapi dimaklumi saja lah. Namanya juga tidak siap kalah”, ungkap Blatter dengan nada nyinyir.

Ajang sepakbola memang menuntut jiwa sportifitas yang tinggi, apalagi untuk sekelas Piala Dunia. Semoga para politisi juga bisa memahami makna Piala Dunia 2018 nanti dari sudut pandang para atlit (pemain) yang telah mencurahkan segalanya, hanya untuk bisa mempertontonkan kebolehannya di lapangan hijau dan berprestasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *